header image
 

Tersenyumlah!!

Tersenyumlah!
(dikutip dari La Tahzan-dr. Aidh Al-Qarni)

Tertawa yang wajar itu laksana ‘balsem’ bagi kegalauan dan ’salep’ bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda’ sempat berkata, “Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan Rasulullah s.a.w. sendiri sesekali tertawa bingga tampak gerahamnya.
Begitulah tertawanya orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatannya.” Tertawa merupakan puncak kegemhiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah, “Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Yakni, tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga dalam pepatah yang berbunyi,

“Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah.”

Bahkan, tertawalah sebagaimana Nabi Sulaiman ketika,
{… ia tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.}
(QS. An-Naml: 19),

Janganlah tertawa sinis dan sombong sebagaimana dilakukan orang-orang kafir,
{… tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami
dengan serta merta mereka menertawakannya.}
(QS. Az-Zukhruf: 47)

Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa.
{Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.}
(QS. Al-Muthaffifin: 34)

Orang Arab senang memuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut mereka, perangai yang demikian itu merupakan pertanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketanggapan pikiran.

Wajah nan berseri tanda suka memberi, dan, tentu bersuka cita saat dipinta.

Dalam kitab “Harim”, Zuher bersyair,
kau melihatnya senantiasa gembira saat kau datang, seolah engkau memberinya apa yang engkau minta padanya

Pada dasarnya, Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak mengenal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang tak berarturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan
langkah yang terarah.

Abu Tamam mengatakan,
“Demi jiwaku yang bapakku menebusnya untukku,
ia laksana pagi yang diharapkan dan bintang yang dinantikan.
Canda kadang menjadi serius,
namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang”

Muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang rancau balau. Dan,
{Sesudah itu, dia bermuka masam dan merengut.}
(QS. Al-Muddatstsir: 22)

Wajah mereka cemberut karena sombong,
seolah mereka dilempar dengan paksa ke neraka.
Tidak seperti kaum, yang bila kau jumpai bak bintang
gemintang yang jadi petunjuk bagi pejalan malam.

Sabda Rasulullah: “Meski engkau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.”

Dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjelaskan demikian: “Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.”

Andai saja saya disuruh memilih antara harta yang banyak atau kedudukan yang tinggi dengan jiwa yang tenteram damai dan selalu tersenyum, pastilah aku memilih yang kedua. Sebab, apa artinya harta yang banyak bila wajah selalu cemberut? Apa artinya kedudukan bila jiwa selalu cemas? Apa artinya semua yang ada di dunia ini, bila perasaan selalu sedih seperti orang yang usai mengantar jenazah kekasihnya? Apa arti kecantikan seorang isteri jika selalu cemberut dan hanya membuat rumah tangga menjadi neraka saja? Tentu saja, seorang isteri yang tidak terlalu cantik akan seribu kali lebih baik jika dapat menjadikan rumah tangga senantiasa laksana surga yang menyejukkan setiap saat.

Senyuman tak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus dan tabiat dasar seorang manusia. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga tersenyum. Langit, bintang-gemintang dan burungburung, semuanya tersenyum. Dan manusia, sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam dirinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat, dan egoisme yang selalu membuat rona wajah tampak selalu kusut dan cemberut. Adapun bila ketiga hal itu meliputi seseorang, niscaya ia akan menjelma sebagai manusia yang selalu mengingkari keindahan alam semesta. Artinya, orang yang selalu bermuram durja dan pekat jiwanya tak akan pernah melihat keindahan dunia ini sedikitpun. Ia juga tak akan mampu melihat hakekat atau kebenaran dikarenakan kekotoran hatinya.

Betapapun, setiap manusia akan melihat dunia ini melalui perbuatan, pikiran dan dorongan hidupnya. Yakni, bila amal perbuatannya baik, pikirannya bersih dan motivasi hidupnya suci, maka kacamata yang akan ia gunakan untuk melihat dunia ini pun akan bersih. Dan karena itu, ia akan melihat dunia ini tampak sangat indah mempesona. Namun, bila tidak demikian, maka kacamata yang akan ia gunakan melihat dunia ini adalah kacamata gelap yang membuat segala sesuatu di dunia ini tampak serba hitam dan pekat.

Ada jiwa-jiwa yang dapat membuat setiap hal terasa berat dan sengsara. Tapi, ada pula jiwa-jiwa yang mampu membuat setiap hal menjadi sumber kebahagiaan. Konon, ada seorang wanita yang di rumahnya selalu melihat segala sesuatu salah di matanya. Akibatnya, sepanjang hari ia merasa dalam gelap gulita; hanya karena sebuah piring pecah, makanan keasinan karena terlalu banyak garam, atau kakinya menginjak sobekan kertas di dalam kamar, ia sontak berteriak dan memaki siapa dan apa saja yang ada di rumahnya. Hal seperti ini sangat berbahaya sebagaiamana percikan api yang setiap saat siap melahap apa saja yang ada di depannya.

Ada pula seorang laki-laki yang acapkali membuat hidupnya dan orang-orang disekelilingnya terasa berat dan sengsara hanya dikarenakan dirinya salah dalam memahami atau mengartikan maksud perkataan orang lain, perkara atau kesalahan sepele yang terjadi pada dirinya, keuntungan kecil yang tak berhasil diraihnya, atau dikarenakan oleh sebuah keuntungan yang tidak sesuai dengan harapannya. Begitulah ia memandang dunia ini; semua terasa gelap. Ironisnya, ia pun akan membuat semua itu terasa gelap pula oleh orang lain di sekitarnya. Dan orang-orang seperti ini sangat mudah mendramatisir suatu keburukan; sebuah biji kesalahan ia besar-besarkan hingga tampak sebesar kubah, dan setangkai benih kesulitan dapat terasa seperti sebatang pohon kesengsaraan. Maka dari itu, mereka pun tidak memiliki kemampuan untuk melakukan kebaikan. Mereka tidak pernah puas dan senang dengan sebanyak apapun pemberian yang pernah ia terima.

Hidup ini adalah seni bagaimana membuat sesuatu. Dan seni harus dipelajari serta ditekuni. Maka sangatlah baik bila manusia berusaha keras dan penuh kesungguhan mau belajar tentang bagaimana menghasilkan bunga-bunga, semerbak harum wewangian, dan kecintaan di dalam hidupnya. Itu lebih baik daripada ia terus menguras tenaga dan waktunya hanya untuk menimbun harta di saku atau gudangnya. Apalah arti hidup ini, bila hanya habis untuk mengumpulkan harta benda dan tak dimanfaatkan sedikitpun untuk meningkatkan kualitas kasih sayang, cinta, keindahan dalam hidup ini?

Banyak orang yang tidak mampu melihat indahnya kehidupan ini. Mereka hanya membuka matanya untuk dirham dan dinar semata. Maka, meskipun berjalan melewati sebuah taman yang rindang, bunga-bunga yang cantik mempesona, air jernih yang memancar deras, burung-burung yang berkicau riang, mereka sama sekali tidak tertarik dengan semua itu. Di mata dan pikirannya hanya ada uang —berapa yang masuk dan keluar hari itu— saja. Padahal, kalau dipikir lebih dalam, sebenarnya ia hams membuat uang itu menjadi sarana yang baik untuk membangun sebuah kehidupan yang bahagia. Tapi sayang, mereka justru membalikkan semuanya; mereka menjual kebahagiaan hidup hanya demi mendapatkan uang, dan bukan bagaimana membeli kebahagiaan hidup dengan uang. Struktur mata kita telah diciptakan sedemikian rupa dan unik agar kita dapat melihat keindahan. Namun, ternyata kita acapkali membiasakannya hanya untuk melihat uang dan uang.

Tidak ada yang membuat jiwa dan wajah menjadi demikian muram selain keputusasaan. Maka, jika Anda menginginkan senyuman, tersenyumlah terlebih dahulu dan perangilah keputusasaan. Percayalah, kesempatan itu selalu terbuka, kesuksesan selalu membuka pintunya untuk Anda dan untuk siapa saja. Karena itu, biasakan pikiran Anda agar selalu menatap harapan dan kebaikan di masa yang akan datang.

Jika Anda meyakini diri Anda diciptakan hanya untuk meraih hal-hal yang kecil, maka Anda pun hanya akan mendapatkan yang kecil-kecil saja dalam hidup ini. Tapi sebaliknya, bila Anda yakin bahwa diri Anda diciptakan untuk menggapai hal-hal yang besar, niscaya Anda akan memiliki semangat dan tekad yang besar yang akan mampu menghancurkan semua aral dan hambatan. Dengan semangat itu pula Anda akan dapat menembus setiap tembok penghalang dan memasuki lapangan kehidupan yang sangat luas untuk suatu tujuan yang mulia. Ini dapat kita saksikan dalam banyak kenyataan hidup. Barangsiapa ikut lomba lari seratus meter misalnya, ia akan merasa capek tatkala telah menyelesaikannya. Lain halnya dengan seorang peserta lomba lari empat ratus meter, ia belum merasa capek tatkala sudah menempuh jarak seratus atau dua ratus meter. Begitulah adanya, jiwa hanya akan memberikan kadar semangat sesuai dengan kadar atau tingkatan sesuatu yang akan dicapai seseorang. Maka, pikirkan setiap tujuan Anda. Dan jangan lupa, hendaklah tujuan Anda itu selalu yang tinggi dan sulit dicapai. Jangan pernah putus asa selama masih dapat mengayunkan kaki untuk menempuh langkah baru setiap harinya. Sebab, rasa putus asa, patah semangat, selalu berpandangan negatif terhadap segala sesuatu, suka mencari-cari aib dan kesalahan orang lain, dan besar mulut hanya akan menghambat langkah, menciptakan kemuraman; dan menempatkan jiwa di dalam sebuah penjara yang pengap.

Penerimaan seseorang terhadap suatu hal tidaklah sama dengan penerimaanya terhadap seorang pendidik yang telah berjasa mengembangkan dan mengarahkan bakat alamiahnya, meluaskan cakrawala pemikirannya, menanamkan kebiasaan ramah dan murah hati dalam dirinya, mengajarkan kepadanya bahwa sebaik-baik tujuan hidup adalah berusaha menjadi sumber kebaikan bagi masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya, mengarahkannya agar senantiasa menjadi matahari yang memancarkan cahaya, kasih sayang dan kebaikan, dan yang telah menuntunnya agar memiliki hati yang penuh dengan empati, kasih sayang, rasa perikemanusiaan, serta merasa senang berbuat baik kepada siapa saja yang berhubungan
dengannya.

Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum justru akan menikmati kesulitan itu dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Begitu ia memperlakukan suatu kesulitan; melihatnya lalu tersenyum, menyiasatinya lalu tersenyum, dan berusaha mengalahkannya lalu tersenyum. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau. Setiap kali menjumpai kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya dan melihatnya sebagai sesuatu yang amat sangat besar dan memberatkan dirinya. Dan itulah yang acapkali menyebabkan semangat seseorang menurun dan asanya berkurang. Bahkan, tak jarang orang seperti ini berdalih dengan kata-kata “Seandainya …,” “Kalau saja …,” dan “Seharusnya ….” Orang seperti ini sangatlah nista.

Bukan zaman yang mengutuknya, tapi dirinya dan pendidikan yang telah membesarkannya. Bagaimana tidak, ia menginginkan keberhasilan dalam menjalani kehidupan ini, tapi tanpa mau membayar ongkosnya. Orang seperti ini ibarat seseorang yang hendak berjalan tetapi selalu dibayangi oleh seekor singa yang siap menerkam dirinya dari belakang. Akibatnya, ia hanya menunggu langit menurunkan emasnya atau bumi mengeluarkan kandungan harta karunnya. Kesulitan-kesulitan dalam kehidupan ini merupakan perkara yang nisbi. Yakni, segala sesuatu akan terasa sulit bagi jiwa yang kerdil, tapi bagi jiwa yang besar tidak ada istilah kesulitan besar. Jiwa yang besar akan semakin besar karena mampu mengatasi kesulitan-kesulitan itu.

Sementara jiwa yang kecil akan semakin sakit, karena selalu menghindar dari kesulitan itu. Kesulitan itu ibarat anjing yang siap menggigit; ia akan menggonggong dan mengejar Anda bila Anda tampak ketakutan saat melihatnya. Sebaliknya, ia akan membiarkan Anda berlalu di hadapannya dengan tenang bila Anda tak menghiraukannya, atau Anda berani memelototinya. Penyakit yang paling mematikan jiwa adalah rasa rendah diri. Penyakit ini dapat menghilangkan rasa percaya diri dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Maka dari itu, meski berani melakukan suatu pekerjaan, ia tak akan pernah yakin dengan kemampuan dan keberhasilan dirinya. Ia juga melakukannya dengan tanpa perhitungan yang matang, dan akhirnya gagal. Percaya diri adalah sebuah karunia yang sangat besar. Ia merupakan tiang penyangga keberhasilan dalam kehidupan ini. Adalah sangat berbeda antara “percaya diri” dengan “terlalu percaya diri”. Terlalu percaya diri merupakan perilaku negatif yang senantiasa membuat jiwa bergantung pada khayalan dan kesombongan semu. Sedangkan percaya diri merupakan hal positif yang akan mendorong setiap jiwa untuk bergantung pada kemampuannya sendiri dalam memikul suatu tanggung jawab. Dan karena itu, ia akan terdorong untuk senantiasai mengembangkan kemampuannya dan mempersiapkan diri dengan matang dalam menghadapi segala sesuatu.

Elia Abu Madhi berkata:
Orang berkata, “Langit selalu berduka dan mendung.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, cukuplah duka cita di langit sana.”

Orang berkata, “Masa muda telah berlalu dariku.”
Tapi aku berkata, “Tersenyumlah, bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya”

Orang berkata, “Langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka.
Janji-janji telah mengkhianatiku ketika kalbu telah menguasainya. Bagaimana mungkin jiwaku sangggup mengembangkan senyum manisnya
Maka akupun berkata,”Tersenyum dan berdendanglah, kala kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya.

Orang berkata, “Perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan, ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus.”
Tapi aku berkata, “Tetaplah tersenyum, karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu. Cukuplah engkau tersenyum, karena mungkin hausmu akan sembuh dengan sendirinya. Maka mengapa kau harus bersedih dengan dosa dan kesusahan orang lain, apalagi sampai engkau seolah-olah yang melakukan dosa dan kesalahan itu?

Orang berkata, “Sekian hari raya telah tampak tanda-tandanya seakan memerintahkanku membeli pakaian dan boneka-boneka.
Sedangkan aku punya kewajiban bagi teman-teman dan saudara, namun telapak tanganku tak memegang walau hanya satu dirham adanya
Ku katakan: Tersenyumlah, cukuplah bagi dirimu karena Anda masih hidup, dan engkau tidak kehilangan saudara-saudara dan kerabat yang kau cintai.

Orang berkata, ” Malam memberiku minuman ‘alqamah tersenyumlah, walaupun kau makan buah ‘alqamah. Mungkin saja orang lain yang melihatmu berdendang akan membuang semua kesedihan. Berdendanglah!
Apa kau kira dengan cemberut akan memperoleh dirham atau kau merugi karena menampakkan wajah berseri?

Saudaraku, tak membahayakan bibirmu jika engkau mencium juga tak membahayakan jika wajahmu tampak indah berseri
Tertawalah, sebab meteor-meteor langitjuga tertawa mendung tertawa, karenanya kami mencintai bintang-bintang

Orang berkata, “Wajah berseri tidak membuat dunia bahagia yang datang ke dunia dan pergi dengan gumpalan amarah.
Ku katakan, “Tersenyumlah, selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum.”

Sungguh, kita sangat butuh pada senyuman, wajah yang selalu berseri, hati yang lapang, akhlak yang menawan, jiwa yang lembut, dan pembawaan yang tidak kasar.

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian berendah hati, hingga tidak ada salah seorang di antaramu yang berlaku jahat pada yang lain dan tidak ada salah seorang di antaramu yang membanggakan diri atas yang lain.” (Al-Hadits)

Jangan Bersedih, Inilah Kiat-Kiat untuk Bahagia

1. Sadarilah bahwa jika Anda tidak hidup hanya dalam batasan hari

ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan,

dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda.

Inilah makna sabda Rasulullah: “Jika pagi tiba, janganlah menunggu sore; dan

jika sore tiba, janganlah menunggu hingga waktu pagi.”

2. Lupakan masa lalu dan semua yang pernah terjadi, karena perhatian

yang terpaku pada yang telah lewat dan selesai merupakan kebodohan dan

kegilaan.

3. Jangan menyibukkan diri dengan masa depan, sebab ia masih berada

di alam gaib. Jangan pikirkan hingga ia datang dengan sendirinya.

4. Jangan mudah terguncang oleh kritikan. Jadilah orang yang teguh

pendirian, dan sadarilah bahwa kritikan itu akan mengangkat harga diri

Anda setara dengan kritikan tersebut.

5. Beriman kepada Allah, dan beramal salih adalah kehidupan yang

baik dan bahagia.

6. Barangsiapa menginginkan ketenangan, keteduhan, dan

kesenangan, maka dia harus berdzikir kepada Allah.

7. Hamba harus menyadari bahwa segala sesuatu berdasarkan

ketentuan qadha’ dan qadar.

8. Jangan menunggu terima kasih dari orang lain.

9. Persiapkan diri Anda untuk menerima kemungkinan terburuk.

10. Kemungkinan yang terjadi itu ada baiknya untuk diri Anda.

11. Semua qadha’ bagi seorang muslim baik adanya.

12. Berpikirlah tentang nikmat, lalu bersyukurlah.

13. Anda dengan semua yang ada pada diri Anda sudah lebih banyak

daripada yang dimiliki orang lain.

14. Yakinlah, dari waktu ke waktu selalu saja ada jalan keluar.

15. Yakinlah, dengan musibah hati akan tergerak untuk berdoa.

16. Musibah itu akan menajamkan nurani dan menguatkan hati.

17. Sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan.

18. Jangan pernah hancur hanya karena perkara-perkara yang sepele.

19. Sesungguhnya Rabb itu Maha Luas ampunan-Nya.

Betapa susahnya ikhlas itu..

Ikhlas..

Suatu kata yang sering banget diucapin para ulama..sering banget dinasehatin sama temen-temen dekat..sering banget gw berusaha ngucapin kata ini untuk menghibur diri sendiri..

Kata yang benar2 tulus untuk diungkapin oleh seseorang yang cukup berjiwa besar..dan bijaksana tentunya..

Apakah saya termasuk orang yang berjiwa besar dan bijaksana?

saya ingin sekalii seperti itu, tapi susahhhh sekali..ternyata untuk langsung instan menjadi orang yang bijak. Perlu banyak pengalaman hidup, perlu mendapat banyak cobaan lagi hehehe..

Balik lagi ke kata “ikhlas”..kata yang mudah diungkapkan, tapi sangat susah dilakukan alias diaplikasikan. Saya bisa berkata demikian, karena sudah berulang kali saya berusaha men-camkan kata-kata tersebut di dalam benak dan pikiran saya, tetapi tetap saja ketika luka tersebut kembali menganga dan si penyebab itu kembali hadir atau muncul aja sedikit pasti ikhlas yang sudah saya bangun kembali hancur berkeping-keping.

Tidak tahulah..saya lagi sebelll berat sama diri saya sendiri..kenapa saya tidak bisa mengikhlaskan hal itu..mengikhlaskan kebodohan saya, mengikhlaskan semua yang telah terjadi sebagai takdir dari Yang Maha Kuasa. Kalau ada orang2 tertentu yang merasa bersalah, it’s ok..saya tidak menuduh siapa2..toh im not accused any person of wat im feeling inside.

itu murni kesalahan saya, kenapa bisa suka sama dia, kenapa saya begitu bodoh dan ceroboh sehingga saya bisa kehilangan harga diri saya. Sekarang ini, setiap mendengar atau menyebut namanya saja, saya merasa amat terhina dan kembali terjatuh ke perasaan duka yang teramat dalam.

Kenapa tidak ada orang yang mengerti saya? Sebenarnya tidak juga sih, ada teman saya, Annisa, yang mengerti sekali apa yang saya rasakan. Tidak tahulah, bila dia akan pergi balik ke negaranya, apakah saya akan patah hati lagi..Tanpa dirinya, saya tidak tahu apakah saya bisa bertahan..

Meneruskan tulisan tentang ikhlas, yang sempat tertunda dikarenakan saya sudah dipanggil untuk follow up pasien (yang jauh dari bangsal saya)..

Saya benar-benar tidak tahu, kapankah saya bisa mengikhlaskan sesuatu yang tak bisa saya raih, kapankah saya dapat menganggap bahwa saya pantas untuk melepaskan sesuatu yang saya pegang teguh..

Sekali lagi, saya katakan bahwa ikhlas itu benar-benar berat..

Sekarang ini, masalah hati yang mendera perasaan saya benar2 membuat saya sebegitu traumanya, sampai saya tidak mampu memaafkan diri saya sendiri setiap kali saya mengingat ”kegagalan” saya. Pasti banyak yang bertanya, masalah apalagi ini? Apakah masalah cinta? Yups!! Bener banget..ampe capek barangkali orang yang baca sekian banyak blog saya hanya untuk membaca patah hati melulu =)

Saya berjanji pada diri saya sendiri, inilah ”kegagalan” yang terakhir kali, saya berjanji untuk tidak naif seperti dulu, tidak akan bodoh seperti dulu, lebih hati-hati dalam bersikap, tidak ceroboh dalam bertindak.

Jikalau saya mencoba mengingat-ingat, apa yang sudah saya lakukan dulu, saya merasa sangat malu dan ..hina (lebih tepatnya). Yah mumpung inilah pengakuan, sekalian buka-bukaan lah..

…..

Saya sudah mengenalnya sejak semester lima, masih kuliah. Namanya banyak saya dengar dari temen2 kuliah, kalau dia itu begini begitu, and seemes like many women adores him..Oh, okay, pengen tahu aja yang mana sih orangnya. Waktu itu, pertama kali saya bertemu dengannya, saya merasa dia sama sekali tidak tampan, bukan tipe saya, and kayaknya agak sok tegas gitu. Maklum waktu itu saya ikut TBM (semacam kegiatan ekstrakurikuler di kampus) hanya dengan satu tujuan: supaya bisa melihat ko Sammy (cowo idaman saya dari semester satu..percaya deh emang ni orang ganteng banget..tipe saya lah hahaha). Saya hanya melihat dia memberi pengarahan and so on yang saya ga terlalu gubris pada waktu apel sore (klo ga salah ya?) acara penutupan TBM. And sampai beberapa waktu saya tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Pada waktu KKJ, semester tujuh, kehidupan koas mulai terbuka di depan mata, saya melihat banyak sekali calon dokter muda, konsulen, residen yang benar2 mengaplikasikan ilmunya di pasien. Jujur, saya kagum sekali. Biasalah, mahasiswa ecek2 kayak saya ni gampang silau sama yang orang yang pake baju putih2 (hehehe..). Ada satu stase dimana saya merasa hati saya cukup tergetar, yaitu stase Obgyn. Pada saat awal-awal stase itu, saya belum terlalu memperhatikan dirinya, karena waktu itu ada yang lebih ganteng (yang inisialnya DW hahaha), trus ada kak Cabo, yang kadang2 klo saya berhalusinasi, agak2 mirip pemeran Cedric Diggory di film Harry Potter IV (wah pasti banyak yang bakal ngelemparin kepala saya pake batu saking ga setujunya hahaha). Ada satu momen, yang benar2 melekat dalam ingatan, yaitu pada waktu dirinya melintas di hadapan kami (saya dan teman saya, yang pada waktu itu lagi bengong2 ga keruan di bangku UGD, tempat pasien nunggu antrian karcis, sambil tersenyum begitu lebar (kenapa lebar? Abis semua gigi geliginya kelihatan) dan menatap mata dengan begitu tajamnya. Kami yang ga tau kenapa jadi bengong, and ga nyadar..ampun deh dasar anak kecil, gampang ”silau” =D Baru pada waktu itu, saya sadaaaar banget klo dia sangat manis, dengan gigi dan senyumnya yang manis, kulitnya yang agak tanned (wadoh rinci bener?) and segudang info yang baik2 tentang dia. Jadilah waktu itu hati saya mulai ”berbunga2”. Manis, memang, mengenang momen itu, karena saya benar2 tidak pernah stunned melihat seseorang, sampai tidak sadar. Mungkin klo dibuat film yang di-slow motioned, bagus kali ye…ai ntar jadi lebay pulak..=D

So, jadilah semua momen yang menghubungkan diriku dengan dirinya benar2 diusahakan olehku. Dari jaga malam barenglah, ampe paduan suara. Nekad bener emang, tapi gpp lah, demi bisa melihat dirinya…

Dia pun baik, pake acara nawarin kami minum, ‘udah pada serak suaranya’, gitu katanya..

Trus pada waktu paduan suara, sempat mata kami bertemu pandang, secara tidak sengaja..ya Allah percaya deh, rasanya saya senaaaaang sekali. Apalagi waktu itu dia senyuuum lagi, seperti biasa. Mabok bener..

Nah, semenjak itulah, saya mulai mengumpulkan segala sesuatu tentang dirinya, seperti foto2nya, ga tau juga saya, kog bisa dapet banyak banget ya? Apa karena dia narsis? Who knows?

Saya mencoba membuat connection langsung dengan dirinya, yaitu dengan introduction lewat sms. Sms I kali, okey, dia bilang, salam kenal juga. Sms yang ke II dia bales, ini siapa? Ga tau lah bagaimana saya harus menggambarkan betapa tersinggungnya saya pada waktu itu. Tapi, it’s okey..baru sekali.

Saya sangaaaaaaaaat jarang mengirimkan pesan kepadanya, karena saya memang menyukai dirinya, lebih tepatnya kagum sih. Ga ada target lebih jauh, selain untuk menambah relasi kakak tingkat. Nah, sms yang kesekian, dia emang bales, tapi dengan embel-embel, ini siapa?Udah lah waktu itu langsung aja saya bales dengan sms yang pedesnya ga tau deh kayak apa, pokoknya dia langsung tersinggung (kena bener berarti). Saya sudah lupa isinya apa, tapi yang jelas saya tersinggung berat ketika itu.

Berbulan-bulan berlalu, saya sudah S.Ked, and masih suka melihat foto2nya yang saya simpan di folder komputer saya. Saking intensnya, saya bisa mantengin tu foto ampe berjam2, ga tau membayangkan apa..sampe akhirnya saya memutuskan bahwa saya ingin bisa menjadi partner sejajar sama dengan dirinya, bisa jaga bersama, dan bisa menilai dirinya secara lebih objektif, dengan melihat bagaimana cara dia bekerja, berhubungan sosial dengan teman2 dan lingkungan rumah sakit..saya ingin sesuatu yang lebih real, bukan hanya membayangkan foto2nya saja. Saya ingin sekali bisa mengenalnya, paling tidak bisa melihat sosoknya setiap hari, walaupun hanya sekejap mata….So, pada stase yang ke-7, saya memutuskan mengambil stase Anak, salah satu stase yang berat menurut pandangan anak2 koas, yang biasanya diambil koas tingkat akhir yang udah nguasain semua stase, yang jelas ga kayak saya lah. Saya sudah memikirkan berbagai kemungkinan, apalagi stase ini adalah stase terakhirnya, so kapan lagi saya bisa get in touch dengan dia? Saya tau bahwa stase itu akan meminta banyak pengorbanan, waktu, uang, tenaga dan tentunya jatah libur Lebaran. Sementara teman2 koas seangkatan saya memilih untuk memperebutkan IKM sebagai stase yang bisa libur, saya memilih untuk ”banting setir”, masuk Anak.

Stase Anak, memang bener2 menegangkan pada 2 minggu pertama, karena saya dituntut untuk cepat belajar dan beradaptasi. Padahal saya baru saja lewat stase yang santai, jadi agak ekstrim suasananya. Ilmu di otak ga cukup. Kalau boleh diibaratkan, selama di stase itu, setiap hari saya bagaikan menginjak duri, pedih kaki saya berdarah2 untuk merangkak2 di stase itu, karena 2 minggu sekali ujian boks, teman satu boks saya kakak tingkat semua, dan ada satu kakak tingkat yang selalu sinis omongannya, saya ga ngerti kenapa dia harus seperti itu, tapi waktu itu saya hanya bisa pasrah. Belum lagi, libur lebaran saya yang dua hari itu saya habiskan dengan 48 jam jaga di PICU. Tapi semua beban itu tidak saya rasakan, dan terbayar dengan hanya melihat dirinya, walau hanya sekejap mata…Apapun yang dia lakukan, walaupun hanya tersenyum, bahkan menyapa saya (the greatest thing he ever done to me), saya merasa dunia berubah menjadi indah dalam seketika. Dan saya lupa akan beratnya beban saya, sehingga tidak terasa minggu demi minggu berlalu, dan tibalah saatnya dimana stase tersebut akan segera berakhir.

Mestinya saya senang kan, sudah bisa keluar dari stase sengsara itu? Tapi, enggak, justru sebaliknya, saya merasa waktu saya semakin sempit, dirinya akan segera pergi dari kehidupan saya dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Selama di stase itu, saya dan dirinya tidak banyak berhubungan. Saya lebih banyak menjalin hubungan dengan temen2 dekatnya. Kesalahan terbesar saya, karena saya ini orangnya sangat ekstrovert (alias sanguinis) dan saking ekspresifnya, adalah saya mengungkapkan isi hati saya itu ke banyak orang. Oleh karena mereka berfikir itu bukan rahasia, so jadilah gosip, yang sangat menyinggung perasaannya. Hal yang saya dengar dari temannya, kalau dia marah mengapa saya harus seperti itu. Saya sadar sekali saya salah, dan sampai sekarang saya susah untuk memaafkan diri saya sendiri. Saya tidak tahu lagi bagaimana caranya agar dia mengetahui perasaan saya, sementara waktu semakin singkat..

Kembali ke jaman sekarang, saya tersadar oleh suatu kenyataan yang teramat pahit, bahwa dia telah menemukan orang lain. Saya susah menggambarkan apa yang saya rasakan, sampai saat inipun bila mengingat kenyataan ini, saya masih menangis..Saya akui saya lemah dalam menghadapi masalah cinta, saya masih mempercayai ada cinta sejati untuk saya, dan saya ingin mencobanya sekali lagi, apakah dia benar2 cinta sejati saya? Sekali lagi, manusia hanya bisa berharap, Allah jualah yang menentukan.

Apabila ada yang pernah membaca blog saya sebelumnya, yang penuh dengan simbol2, misalnya saya mengibaratkan hati saya ini seperti hati sirosis yang banyak sikatriknya, memang itulah adanya. Kalau dulu saya masih bisa ingin kembali mencoba, tetapi setelah yang satu ini, saya rasanya tidak sanggup lagi untuk dapat merasakan sakit hati. Lebih tepatnya, saya sudah mengeraskan hati saya sedemikian rupa, agar tidak akan pernah terbuka lagi hati saya untuk yang namanya cinta, saya tidak akan pernah menyukai seseorang sebelum dia menyukai saya.

Ada lagi istilah patah hati yang saya rasakan, seperti disuntik vitamin C intravena, memang begitulah rasanya. Ketika mendengar kabar itu, saya tidak tau lagi harus berbuat apa, ketika saya menangis, saya merasa badan saya sakit..semacam psikosomatis, saya sampai depresi, tidak tahu lagi harus bagaimana. Perih sekali, sangat perih…

Berminggu-minggu berlalu sejak kabar itu terdengar, saya mencoba lagi menata hati saya, yang sudah hancur berkeping2, yang jadilah hati saya penuh dengan tambalan separuh jadi, yang saya usahakan dilekatkan dengan yang namanya IKHLAS tadi, serta banyak berdoa dan bersyukur kepada Allah, agar saya dapat terlepas dari virus yang mengganggu hati saya.

Saya ini termasuk orang yang tidak gampang dibohongi, karena saya akan mencari tahu, sampai ke detil2 setiap aspek. Sehingga saya mengetahui siapa pilihan hatinya, sebelum dia mengetahui kalau saya mengetahuinya. Saya penasaran, so saya buka profil perempuan itu. Okey, saya melihat testi darinya. That’s the link. Ga lama kemudian, saya di-add friend oleh perempuan itu. Okey, saya berbesar hati, ga enak juga, karena perempuan itu masih adik tingkat saya, siapa tahu saya bisa menambah relasi ke bawah dengan adik2 tingkat. Tetap berfikir positif.

Akan tetapi, seperti yang saya sempat tulis di bulletin dan blog sebelumnya, bahwa saya merasa di-add oleh perempuan itu seperti menyimpan duri di dalam daging, bila saya melihat profilnya, saya akan melihat testimonial manja darinya, luka saya kembali menganga. Saya akui, saya bukan perempuan suci yang berhati mulia dan tulus. Ini bukan cerita sinetron, yang dengan gampangnya pemain figuran disingkirkan dan merelakan apa yang terlepas dari keinginannya. Akhirnya, saya memutuskan untuk membuang perempuan itu dari daftar list friend teman saya, daripada menumbuhkan penyakit hati. Hati saya sudah sakit, dan tidak ingin berulang kembali.

Jujur, saya sangat lega dengan apa yang saya lakukan.

Semenjak saya patah hati, saya sering sekali menulis buletin tentang apa yang saya rasakan, saking seringnya sampai 4 kali sehari =) sama halnya dengan blog..

Beberapa saat berselang, tiba2 ada pesan dari tetangga saya, yang dikirimi pesan olehnya, dan bertanya apakah saya marah padanya..

Saya menyampaikan kepada tetangga saya tersebut bahwa saya memang marah. Teman sayalah yang menyampaikan hal itu kepada dirinya, dan dia bertanya apakah alasannya. Teman saya menjawab, perempuan itu.

Sebenarnya, bukan perempuan itu atau dirinya yang membuat saya marah. Tetapi saya sendiri. Mengapa saya harus menyukai dirinya? Mengapa saya berbuat kesalahan pada waktu stase Anak kemarin? Mengapa saya harus mempermalukan diri saya sendiri? Mengapa saya tidak bisa mengikhlaskan dirinya telah menyukai orang lain?

Sebegitu banyak perasaan bersalah yang saya rasakan, sebegitu hebatnya perasaan benci yang tumbuh dalam benak saya, sehingga saya tidak sanggup untuk membalas pesan apapun yang dikirim olehnya, baik melalui sms maupun email. Saya tidak ingin melontarkan kata2 pedas ataupun ungkapan sakit hati, karena saya baru saja merasa hati dan perasaan saya lebih baik, berkat dukungan teman2 terdekat saya. Saya tidak sanggup melihat fotonya lagi (ketika saya mendengar kabar itu, saya langsung membuang semua foto2nya dari komputer saya), saya tidak sanggup untuk mendengar kabarnya, bahkan saya tidak sanggup untuk mendengar apalagi menyebut namanya. Saya meminta satu permohonan yang teramat sangat kepada Allah: saya tidak ingin dipertemukan lagi dengannya. Sampai akhirnya saya sudah bisa melupakannya. Dan apabila bertemu, saya ingin mengucapkan padanya, ”Ini siapa ya?”

………

Itulah alasan mengapa, kata ikhlas sangat susah sekali saya terapkan akhir-akhir ini. Mungkin seiring waktu, luka saya akan sembuh. Seiring dengan kata ikhlas yang ter-camkan di dalam benak dan pikiran saya.

Sebelum ada pesan2 yang ga jelas dari dirinya, saya berfikir bahwa saya sudah cukup ikhlas dalam menghadapinya, tetapi ternyata tidak. Saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri. Tapi insya Allah, karena Allah sayang sama saya, Dia tidak akan pernah membuat hambanya yang lemah ini terus2an bersedih hati. Allah akan mengabulkan keinginan saya untuk dapat menyuburkan ikhlas yang telah saya tanam selama ini.

Insya Allah..Amin.

I’ve been blessed…

Bismillahirrohmanirrohim..

Alhamdulillah, saya masih diberi nafas dan tenaga yang cukup sehingga saya masih bisa melanjutkan hidupku, masih bisa menjalani stase dengan baik dan tenang, masih bisa belajar makan minum tidur dengan semestinya, dan masih bisa duduk di depan komputerku yang setia untuk menulis blogku lagi..

 

Kali ini saya ditemani lagu Jason Mraz, I’m Yours. Hmm..udah nyaman,,yuk mari mulai lagi..

 

Ga taulah, akhir-akhir ini saya merasa harus banyak-banyak bersyukur…baru kali saya mengetahui ternyata mendengarkan orang yang sering menggerutu dan mengomeli nasib buruknya merupakan hal yang lumayan menyebalkan, meskipun terkadang kita juga perlu mendengarkan, apabila gerutu tersebut berupa curhat..apalagi tentang patah hati..yukk..

 

Kemarin2 saya menggerutu kenapalah saya ini ga pernah beruntung, kenapa saya harus ujian dengan si A kenapa bukan si B seperti yang saya sudah perkirakan sebelumnya, eh ga taunya ujian saya dimulai dan diakhiri dengan cukup sukses. Pas masuk stase baru, lagi-lagi saya harus ber-alhamdulillah ria karena lagi-lagi Allah sayang sama saya, diberi tantangan yang cukup mudah (hehe ga berani sebenarnya berspekulasi), refrat dan case dikasih dosen yang baik…alhamdulillah..

 

Kayaknya blog saya harus dipenuhi kata “alhamdulillah” karena Allah sangat sayang sama saya!!!

Bayangin, malam ini aja saya bakal makan di restoran enak ditraktir oleh bapak tetangga saya, dalam waktu dekat insya Allah bakal dapet duit hasil job lagi, hari minggu ntar bakal ditraktir kakak residen karokean…duh…bahagia banget!!!hehehe..

Ternyata kesedihan saya yang teramat dalam dibalas oleh Allah dengan berbagai anugerah yang tak terbayangkan….

 

Begitulah..terkadang karena ambisi dan keinginan kita yang besar, tak terlihatlah sekian banyak berkah-berkah indah di sekitar kita, yang kita anggap kurang penting dibandingkan ambisi kita yang besar itu. Maka daripada itu, ketika ambisi itu tidak tercapai, kita akan merasa gagal, rendah diri, bahkan depresi.

 

Sama halnya dengan saya..ketika saya gagal mendapatkan lelaki yang saya kagumi, saya merasa sangat terluka, gagal, tercampakkan dan hina..

Jujur saja, saya merasa SANGAT SEDIH DAN DEPRESI ketika itu. Sebenarnya sampai saat ini pun, saya masih sedih, ketika melihat fotonya terpampang di daftar list friend saya, lebih sedih lagi melihat profil kekasih hatinya yang imut-imut itu, karena ada komentarnya yang manja untuk perempuan itu..tapi itulah hidup, memang si dia menjadi rizki untuk perempuan itu. Saya bisa berbuat apa? Karena saya percaya akan takdir yang sudah digariskan oleh-Nya. Saya percaya Allah akan memberikan yang terbaik buat saya. Saya percaya Allah tidak akan pernah membiarkan saya bersedih terlalu lama.

 

Memang rasa kesal dari sisa sakit hati itu masih ada, bahkan mendengar nama si dia disebut oleh teman2 saya saja, saya merasa sangat kesal dan terhina, seolah2 mereka mengejek saya dengan menyebutkan nama si dia. Saya akan mencoba menghilangkan perasaan buruk tersebut, insya Allah.

 

Ketika sedih tersebut, saya merasa saya sangat sial sekali, saking besarnya porsi rasa sedih dalam pikiran saya, saya sampai tidak bisa “merasa” berkah-berkah lain yang hadir menanti saya. Memang untuk belajar bersyukur, seperti kata mama saya, sering-seringlah melihat ke bawah. Melihat orang-orang yang kurang beruntung, tidak beruntung, sangat tidak beruntung, tidak beruntung sama sekali, sampai yang sangat sial sekali.

 

Seperti apakah orang-orang itu?

 

Baru-baru ini saya benar-benar terguncang dengan peristiwa agresi militer Palestina. Rakyat di sana benar-benar menderita. Bukan cerita sinetron lebay atau film box office ni..boro-boro patah hati, buat idup aja mereka susah banget..apalagi waktu saya baca tentang sejarah Palestina, saya bisa sampai nangis..jarang-jarang perasaan saya bisa tersentuh sedemikian dalam untuk rakyat yang jauh dan tidak saya kenal. Barulah saya mengerti kenapa ummat Islam seharusnya ada sebagai satu tubuh, dimana bila ada bagian tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasa begitu juga. Itulah ukhuwah Islamiyah yang selama ini saya pelajari dari majelis ta’lim waktu saya semester 1 di kuliah dulu.

 

Gimana ga sedih? Bayangkan, gimana rasanya terusir dari rumah sendiri? Selama 50 tahun lebih…namun, semangat mereka, pejuang Hamas, tidak pernah pudar. Itulah jihad, merekalah pahlawan yang sebenarnya. Jujur, saya sangat kagum dengan pejuang-pejuang Hamas, kagum dengan rakyat Palestina, karena mereka hidup dengan kesucian, dimana hidup mereka sesuai dengan tatanan Islam, hidup secara Islam, dan mati untuk Islam. Mungkin, bila saya orang Palestina, saya lebih memilih untuk mati syahid membela rakyat dan negara saya, daripada hidup hina di tengah penderitaan rakyat saya, atau yang lebih parah mengkhianati rakyat saya sendiri. Barulah saya bisa mengerti kenapa jihad itu bernilai sangat tinggi di mata Allah. Subhanallah..

 

Oleh karena simpati yang sangat dalam itulah, saya mati2an membela Palestina dan sangat membenci Israel laknatullah beserta apapun yang berkaitan dengannya. Bagaimana mungkin saya bisa mengurangi kebencian saya terhadap Israel? Apapun yang mereka lakukan, toh pada akhirnya berakhir dengan kematian rakyat Palestina. Mau sebanyak apa lagi? Mau sesering apa lagi? Mau daerah mana lagi?

 

Terkadang saya tidak habis pikir, secara geografis, ekonomis, dan militer, Israel sudah jauh sangat unggul sekali. Wilayah hasil rampasan Israel 5x lebih luas daripada wilayah Palestina. Negara2 Arab yang mengelilingi Palestina tidak membuka perbatasan dan bukan ally untuk Palestina. Secara militer, Palestina hanya punya roket yang jarak tembaknya paling jauh 20an km, tanker2 baja apalagi, minim banget, dana apalagi. Secara ekonomi, siapapun tau kalau dana Israel banyak sekali disokong oleh dunia Barat, apalagi Eropa Inggris dan AS. Rupa2nya, yang menyokong dana untuk mereka itu, merek2 barang yang kita pakai sehari2! Sampai2 salah satu situs yang lagi hot saat ini, Facebook. Duh!! Belum lagi budaya2 mereka yang buruk, salah satunya hari valentine. Tadinya saya menganggap, kog senior saya yang anak Rohis mati2an melarang dirayakannya hari tersebut toh itukan cm buat seneng2..rupanya, larangan itu memang tepat. Klo membahas tentang masalah valentin, udah ampe bebusa saya berkoar2 di buletin. Saya juga merasa kecewa dengan Obama, karena pelantikannya sudah diawali dengan perkataan yang tidak mengenakkan tentang dunia Islam. Ternyata Islamofobia juga tidak luput terhadap diri Obama. Padahal Obama mempunyai banyak link dan background Islam di dalam dirinya. Yah begitulah, ketika anugerah datang beruntun, seseorang merasa dirinya hebat dan melupakan jati diri sendiri. Meskipun saya tidak percaya karma, insya Allah, siapapun yang berlaku begitu akan mendapatkan balasannya dari Allah, mungkin lebih buruk dari apa yang telah dia perbuat.

 

Hal yang sangat lucu, ketika agresi sedang terjadi, umat Islam berlaku acuh tak acuh. Banyak yang tidak perduli, menganggap untuk apa terlalu simpati dengan urusan orang lain, toh urusan dalam negeri dan perut sendiri jauh lebih penting dan vital untuk diurusi. Terkadang saya membenarkan ucapan dosen saya, memang intuisi dan emotional quotient orang jaman sekarang sudah sangat kurang. Elo ya elo, gue ya gue. Padahal, saya berpikir, dengan peduli akan nasib orang lain, dan menjadikannya cerminan dan koreksi terhadap diri sendiri, bukankah itu merupakan hal yang bijaksana, yang seharusnya berkembang sesuai kedewasaan? Benar apa kata Nabi, pada masa yang akan datang ummat Islam akan bertambah banyak, namun seperti buih di lautan, mudah tercerai dan pecah.

 

Ada yang berkomentar, bahwa saya masih terkungkung dalam masa lalu, padahal sekarang jaman sudah sedemikian moderennya. Pikiran saya begitu sempit, dengan melihat dari begitu mudahnya saya menghujat orang lain, merasakan begitu tajamnya kritikan dan komentar yang saya berikan. Sudah saya berikan beberapa alasan, but actually, orang yang berkomentar itu tidak mengerti apa2. Sampai capai saya meladeni komentarnya. Saya tidak pernah menghina orang lain tanpa sebab, kecuali memang orang itu pantas untuk dihina. Seperti Israel. Anjing punya bapak kosan saya saja lebih mulia perilakunya daripada Israel.

 

Saya selalu menilai seseorang itu dari background nya, dan apabila saya kenal, saya akan menilainya dari perilakunya sehari2 atau dari testimonial teman2nya dan orang2 di sekitarnya. Saya tidak menutup kemungkinan akan perubahan, karena manusia itu bukanlah makhluk yang bisa diprogram, manusia itu fleksibel. Termasuk saya sendiri, alhamdulillah saya sudah jauh berubah, mengingat usia saya sudah memasuki kepala dua. Masa sih saya masih berperilaku seperti anak 17 tahun? Hehehe..

 

Ceritanya, selama seminggu ini, saya merasa energi saya agak terkuras karena harus meladeni beberapa orang yang mengkritik saya. Emang susah ya menerima kritik, sampai saya jadi berfikir, kayaknya saya memaksakan ide saya deh..tapi gimana ya? Fakta gitu loh..apakah saya tidak boleh membela yang benar atau hampir benar? Itu hak saya!!

 

Balik lagi ke alhamdulillah-things, saya banyak sekali menghaturkan rasa syukur karena saya masih bisa menikmati hidup dengan tenang tanpa adanya perang, dan bencana alam, masih bisa relaks mendengarkan lagu Take A Bow dengan earphone dari hp walkman saya, masih bisa duduk di depan komputer sambil ditemani hembusan angin sejuk kipas angin pinjeman bapak kosan saya..

 

Alhamdulillah, saya masih punya aba dan mama yang sayaaaang banget sama saya, alhamdulillah saya mempunyai sahabat2 yang baik dan selalu ada untuk saya ketika saya dalam keadaan sedih ataupun senang, alhamdulillah karena keadaan perkoasan sangat kondusif untuk saya belajar. Alhamdulillah lagi, karena saya bertemu teman2 baru out of circle-nya saya, yang ternyata baiik sekali..dan menyeangkan untuk diajak ngobrol.

 

Satu lagi, mungkin saya harus mensyukuri ketidakberuntungan saya. Saya harus mensyukuri patah hati yang saya rasakan. Saya harus mensyukuri bencana yang telah saya dapatkan. Saya harus mensyukuri rasa sakit hati yang saya rasakan terhadap si dia. Saya harus berterimakasih kepada si dia, karena dengan sakit hati yang telah ditaburkan olehnya-lah, saya tidak akan menjadi seperti sekarang, lebih kuat dan lebih tegar. Every stone and obstacles that makes me fall again and again, they wont make me weak, but instead, i will be stronger than ever.

 

Once again..

I feel like i have been blesse, again,  by my truly love, Allah..

Alhamdulillah..

Bedanya patah hati bocah 17 tahun sama cewe umur 23 tahun

Bismillahirrohmanirrohim..

Ide ini terlintas begitu saja di benak saya, karena kebetulan sekaliii saya patah hati lagi untuk yang kesekian kalinya..dan saya bertekaddddd sekali..inilah patah hati yang terakhir kali!!!!! Tidak akan lagi hepar saya terjangkiti virus yang namanya “cinta”, kalau ibarat hepar orang yang kena hepatitis, mungkin hepar saya penampakannya sudah kayak hepar orang sirosis..sikatriks semua!!

Kalau mengingat-ingat umur..rasanya ga pantes saya meratapi patah hati saya yang kali ke sekian ini dengan menangis sendiri di kamar, meratapi nasib, apalagi menyalahkan Allah atas apa yang sudah terjadi kepada saya.

Patah hati? Sudah jadi sejarah dalam hidup saya..kalau dibuat medical recordnya wuih panjang..dan semuanya kronis, dan stadium terminal, untungnya setelah beberapa kali kemoterapi, sembuh juga (lho kog jadi kayak PDL??). All broken hearts are painful..apalagi kalau mengetahui orang yang kita benar-benar cintai ternyata sedang mendekati orang lain, ga masalah orang itu jelek atau ga, keren atau ga, yang jelas orang yang kita cintai tidak memberikan respon apapun, alias dia tidak merasakan apa yang kita rasakan terhadapnya.

Hal yang lebih membuat sisi saya terpojok adalah saya telah melakukan sesuatu yang salah (padahal saya tidak merasa demikian) dalam mendekati orang yang saya cintai tersebut. Perempuan memang ditakdirkan untuk menunggu, namun bila yang dicintai tidak mengetahui, apakah sepantasnya dia berdiam diri? Posisi yang serba salah..

Inilah bedanya how to cope a broken heart between a teenager and a woman.

Pada waktu saya berumur 17 tahun, alias 6 tahun yang lalu, saya menghadapi kejadian ini dengan cara menangisi diri saya sendiri, merasa saya yang salah, saya banyak kekurangan, tidak ada kelebihan, tidak ada orang di dunia ini yang mencintai saya, saya ini buruk rupa, tidak langsing, tidak kaya, de el el. Terkadang, saking naifnya, saya kepikiran untuk bunuh diri..betapa bodohnya..

Tidak dipungkiri ketika seseorang menolak perasaan kita yang penuh dengan cinta, kita merasa tertohok dan tidak berharga. Kenapa? karena si dia tidak merasakan yang sama, tidak jatuh cinta akan kelebihan yang kita miliki, tidak ingin lebih dekat dengan kita, atau bahkan membenci kita, walaupun kita sudah berusaha untuk menjadi yang dia inginkan, bahkan sampai mengorbankan self-identity. Berusaha untuk menjadi yang dia inginkan..Hmm..sounds reasonable, biasalah siapa sih yang tidak ingin membuat orang yang dia cintai bahagia dan senang?

Itulah dunia saya waktu saya berumur 17 tahun, meskipun saya pada waktu itu berjuang untuk bertahan hidup di Jakarta yang keras, namun saya masih mempunyai mimpi-mimpi dan khayalan layaknya anak berumur 17 tahun, ingin dicintai dan mencintai apa adanya, ga pake embel-embel.. Namun, apa yang ditemui dan dihadapi di dunia ini bukanlah seindah apa yang ada di dalam khayalan anak 17 tahun, melainkan suatu kenyataan pahit, yang terkadang membuat trauma kejiwaan dan banyak bermuram durja.

Sekarang, saya sudah menjadi seorang wanita berumur 23 tahun, yang sedang magang di sebuah rumah sakit menjadi aparat (emang polisi?) kesehatan, yang ga dibayar, alias sukarela. Usia dimana semestinya saya sudah harus siap untuk menikah, punya anak dan mengurus rumah tangga, yang kesemuanya membutuhkan tanggung jawab. Tidak sabar untuk cepat mempunyai uang sendiri, membahagiakan orang yang telah membesarkan saya, yaitu orang tua saya.

Bagaimana saya menghadapi patah hati yang kembali residif pada usia segini?

Point of view saya sudah jauh banyak berubah dibandingkan dengan saya 6 tahun yang lalu. Tidak ada lagi penyalahan diri sendiri. Yang ada hanyalah kontemplasi dan lebih banyak bersabar. Bertindak wise seperti layaknya wanita berumur 23 tahun. Apalagi ini kejadian patah hati yang kesekian kalinya, mestinya saya sudah harus lebih berpengalaman dalam mengatasinya.

Hari ini, tepat tanggal 16 Januari 2009, saya mengetahui suatu fakta yang tidak mengenakkan tentang orang yang selama ini saya cintai. Ternyata dia sedang mengincar perempuan lain.

Reaksi pertama? Ga jauh beda dari saya 6 tahun yang lalu. Diam, terpaku, dan kemudian menangis. Jujur aja, sewaktu mendengar berita tersebut, hati saya terasa seperti teriris-iris, perih sekali rasanya. seperti disuntik dengan asam askorbat via intra vena, lebih kurang.

Awalnya, memang saya menyalahkan diri sendiri, kenapa begini begitu. Tetapi lama kelamaan, saya berhenti untuk menyalahkan diri saya sendiri, menjelek-jelekkan diri saya sendiri. Saya kemudian berfikir, andaikan saya tidak mencintai diri saya sendiri, lalu siapa? Saya merasa tidak beruntung, lalu bagaimana dengan orang-orang yang juga tidak beruntung dalam cinta, sampai usia mereka tua, atau orang-orang yang ga beruntung dalam hidup, cacat fisik dan mental? Tentulah saya harus berhenti untuk mengutuk kesialan saya, karena sesungguhnya saya jauhhh lebih beruntung daripada orang-orang tersebut.

Itulah bedanya pemikiran saya sekarang ini dibandingkan dengan saya 6 tahun yang lalu. Saya berfikir bahwa terus menerus meratapi patah hati itu tidak sehat, meskipun hal “ratap-meratap” ini susahhhh sekaliii dilakukan apalagi baru saja tertoreh luka menganga di hepar saya. Cinta terkadang dapat menjadi obat sekaligus pisau yang berbalik melukai. And then, saya mulai berfikir hidup saya ini akan tetap berjalan khan? Meskipun tanpa dirinya di sisi saya, toh hidup akan tetap berlajut khan? Meskipun saya meratap 1000 tahun ataupun saya mengutuk dirinya berulang kali, toh dia juga tetap akan memilih perempuan itu. Jadi, meratapi patah hati itu adalah suatu tindakan yang sangat tidak berguna sekali. Yang ada aspek kehidupan saya yang lain, yaitu jalan untuk menuju cita-cita saya, bisa terganggu. Paling tidak, bila saya kalah dalam cinta, saya tidak kalah dalam karir dan cita-cita saya. Sampai kapan saya harus begini? Harus berapa banyak pengorbanan hati yang saya lakukan? Sampai kapan hati saya harus selalu merasa teriris-iris? Betapa tidak adilnya saya terhadap diri saya sendiri.

Lagipula, dengan terlalu memikirkan dirinya, yang notabene juga makhluk Allah, saya juga telah berdosa, karena telah mencintai sesuatu melebihi cinta saya kepada Yang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla. Seharusnya saya habiskan hidup saya ini dengan mentadaburri ayat-ayat Allah, mengamalkan ajaran-Nya, menjauhi larangan-Nya, bukan dengan memikirkan orang lain yang jelas-jelas tidak pernah mencintai saya. Saya sadar sekali, Allah begitu sayang kepada saya, karena betapapun seringnya saya mengkhianati cinta-Nya, betapa seringnya saya melalaikan panggilan-Nya, tetap saja Allah mencintai saya, tanpa pamrih, selalu ada bila saya membutuhkan-Nya, selalu mendengarkan keluh kesah saya, dan yang terpenting, selalu menerima saya apa adanya, tidak perlu kehilangan self-dignity and my own personality.

Jadi, sungguh lucu dan konyol bin sia-sia bila saya harus meratapi cinta yang ga kesampaian seperti itu. Ga ada yang lebih bahlul lagi daripada yang demikian itu.

Jauh lebih baik kan pemikiran saya sekarang ini, daripada saya 6 tahun yang lalu? Pemikiran naif telah berlalu, sejalan dengan sikap, tindakan dan perilaku saya. Mudah-mudahan saya akan tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa dalam bertindak, berkata dan menaruh perasaan saya. Amin.

Jujur saja, saya lega sekali dapat mencurahkan perasaan saya dengan menulis, karena saya dapat mendeskripsikan apa yang saya rasakan dengan jelas dan lugas, menurut pikiran saya sendiri. Saya, sih, berharap ini tulisan saya yang terakhir tentang patah mematah hati ya..Ada satu waktu dimana kita harus berhenti untuk memikirkan cinta, apalagi terhadap lawan jenis, apabila cinta itu telah bersifat merusak diri sendiri. Siapa lagi yang dapat mencintai diri kita selain kita sendiri? Berdosa, lho, kita menjelek-jelekkan diri sendiri, karena diri kita yang fana ini adalah ciptaan Allah yang sempurna. Yah..seperti kata Michael Faraday, “Tuhan tidak pernah menciptakan barang jelek”.

Daripada sumpah serapah, mendingan..

Bismillahirrohmanirrohim…

Maha Suci Tuhan yang Maha Qudus. Yang Menciptakan dan Yang Memperbuat. Jika Dia menghendaki dihilangkannya dan digantinya dengan kejadian yang baru. Tidaklah yang demikian itu menyusahkan bagi Allah. ”

Cintailah “makhluk” sekadarnya..

(sebuah kutipan dari buku ”Doa-Doa Patah Hati” by Kang Yadi)

Jujur, kadang saya suka sebel dan sering bertanya-tanya: kenapa ya kalau putus cinta kita selalu patah hati? Kenapa patah hati itu nggak enak ya rasanya? Bahkan, saya suka merasa heran, kog ada ya orang yang sampai berlarut-larut berpatah hati ria? Berminggu-minggu mengurung diri di kamar, menangis sejadi-jadinya hanya karena mikirin si doi. Padahal, si doi kan cuma makhluk biasa sama kayak kita. Kenapa kita begitu memujanya sampai sedemikian? Pasti ada yang salah, nih.

Maksudnya? Iya. Kayaknya kita terlalu berlebiha. Kita menganggap hanya dia satu-satunya yang harus kita cintai. Dia adalah segala-galanya buat kita. Hanya dia yang ada di hati kita. Pokoknya, setiap hari kita hanya fokus mikirin dia, dia, dan dia. Bahkan kita menganggap hanya dia yang bisa membahagiakan kita sepenuhnya bahkan sampai ada yang rela menyerahkan seluruh jiwa, raga dan harga dirinya demi dia. Padahal, dia juga manusia biasa sama kayak kita yang punya keterbatasan dan kekurangan.

Makanya kita harus hati-hati dalam mengekspresikan cinta. Jangan sampai berlebihan. Rumusnya, cintailah segala sesuatu yang ada di dunia ini secukupnya. Soalnya bisa jadi apa yang kamu cintai itu akan benci dan pergi meninggalkanmu. Begitu juga sebaliknya, bencilah sesuatu yang ada di dunia ini secukupnya, soalnya bisa jadi apa yang kamu benci itu terbaik buat kamu.

Mencintai dan dicintai itu memang fitrah, tapi kita jangan sampai terlena, apalagi sampai lupa pada Zat Yang Maha Mencintai. Karena, yang namanya cinta sejati itu hanya Zat Yang Maha Sejati, Allah Azza wa Jalla. Makanya, mari kita berlindung dari yang namanya cinta palsu. Sesungguhnya, cinta palsulah yang selalu membuat kita patah hati.

Mencintai dicintai fitrah manusia

Setiap insan di dunia pasti merasakannya

Indah ceria kadang merana

Itulah rasa cinta

Berlindunglah pada Allah

Dari cinta palsu

Melalaikan manusia, hingga berpaling dari-Nya

Menipu daya dan melenakan

Sadarilah wahai kawan

Cinta adalah karunia-Nya

Bila dijaga dengan sempurna

Resah menimpa, gundah menjelma

Jika cinta cinta tak dipelihara

Cinta pada Allah…cinta yang hakiki

Cinta pada Allah…cinta yang sejati

Bersihkan diri gapailah cinta

Cinta Ilahi..

(The Fikr, Album Cinta)

Anggaplah patah hati itu sebagai ujian

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”kami telah beriman”, sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

(QS Al-Ankabut [29]: 2-3)

Dari ayat di atas, kita jadi tau, bahwa sesungguhnya kita hidup di dunia ini nggak akan lepas dari yang namanya ujian, ujian, dan ujian.

Dalam kehidupan ini Allah swt senantiasa menguji hamba-hamba-Nya yang beriman. Untuk apa? Bukan berarti Allah kejam, nggak adil atau ingin menyiksa kita. Ujian itu diberikan sebagai ajang untuk ngebuktiin apakah hamba-Nya itu betul-betul beriman atau nggak.

Tentu saja Allah nggak akan menguji kita dengan hal-hal yang berada di luar batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Seperti yang terdapat dalam firman-Nya:

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…

(QS Al-Baqarah [2]: 286)

Makanya, bila lagi patah hati, kamu jangan langsung nayalahin nasib atau menganggap Allah itu kejam. Sebab, bisa jadi di balik ”patah hatinya” kamu itu ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil.

Caranya bagaimana? Ya, pasti bukan dengan cara rewel, kesal, marah-marah, tuding sana-tuding situ. Meskipun semua itu sangat sulit dilakukan, kita harus terus berusaha menghadapi setiap masalah dengan lapang dada, bersabar, dan terus berusaha mencari jalan keluarnya. Jujur, saya juga masih sulit. Apalagi yang namanya sabar, wuih..sulit banget!!! Banyak godaannya. Ya, sekali lagi, itulah hidup. Nggak seru kalau nggak ada rintangan.

Selain usaha, ada hal yang lebih penting lagi untuk kita lakukan, yaitu: menyerahkan semua urusan, masalah, musibah dan ujian kepada Zat Yang Maha Menggenggam alam raya ini. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan untuk bisa keluar dari semua beban yang menyebabkan hati kita menjadi patah. Sebab, Dialah satu-satunya Zat yang bisa memberikan kekuatan kepada kita untuk bisa menyelesaikan semua masalah yang kita hadapi. Tanpa kekuatan-Nya, mana mungkin kita bisa menyelesaikan masalah yang demikian berat?

Selanjutnya, nggak dibolehkan bagi kita ”berputus asa”. Apalagi putus asa dari rahmat Allah. Putus asa adalah salah satu ciri-ciri orang kafir dan sesat. Kita harus yakin, bahwa nggak ada lagi Zat yang bisa menyelesaikan semua beban dan rasa patah hati kita kecuali Allah swt.

Katakanlah: ”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

(QS Az-Zumar [39]: 53)

Dari ayat di atas, bila kita tafakuri bersama, rahmat Allah itu amatlah luas nggak terhingga. Bahkan saking luasnya, dosa-dosa atau kesalahan yang telah kita lakukan nggak akan bisa menyaingi rahmat dan kasih sayang Allah.

So, mau patah-patah kek, nyantai aja lagi. Yang penting kita harus hati-hati, jangan sampai virus patah hati menyerang dan menghancurkan hidup kita. Berusahalah mencari jalan keluarnya. Semoga Allah membantu semua usaha kita. Amiin!

And I Hate How Much I Love You, Boy…

Assalamu’alaikum..

back again2my blog yang seperti biasa…isinya patahhh hati mulu..

Kali ini ditemani backsound Rihanna feat. Ne-Yo..dari judul blog aku dah jelas kan lagu yang mana?

Nah knp temanya itu..yah karena itulah yang skrg aku rasain..yah meskipun sakit cinta terus2an ga berbalas..tapi untuk kali ini rasanya beda..si dia memang unreachable..looks too ideal to be my man..saking ngerasa unreachable-nya..aku ampe rela masuk stase dimana aku ga bisa bersenang-senang sekali pun..klo aku pikir2 emang perasaan cinta ni bisa membuat otak aku jadi ga waras n ga pake logika..padahal klo aku pikir2 gila jugak aku ngambil stase itu padahal mau lebaran..emang sih risikonya aku ga bisa liburan..tapi krn aku pengeeen banget supaya si dia tau siapa aku n klo bisa tau perasaan aku..yah aku ga ambil pusing..aku bener2 pengen bisa liat dia..setiap hari..apa aja yang dia lakukan..gimana hubungan sosial dia sama temen2 satu stasenya..and emang ga salah aku menilai si dia sebagai org yang sangat aku idolakan…si dia emang baik and he’s so sweet..^_^ berhubung si dia banyak yang naksir, yah aku cm bisa berkhayal aja hehehe.. jgn2 aku sekarang ni berilusi deuuu…

Selama 10 minggu yang menyiksa tapi menyenangkan itu, emang harapan aku untuk melihat dia setiap hari dikabulkan sama yang Maha Kuasa, plus banyak gosip2 yang bikin panas telinga si dia..aku jujurlah ya bingung gimanalah supaya si dia tau perasaan aku..yah jadinya gitu de bikin gosip..duhhh afwan ya >_

Insya Allah semua kenangan yang ada antara aku n si dia akan selalu aku ingat n aku simpen sebagai penyemangat aku dikala aku jenuh menjalani kehidupan koas yang setaon lagi ga jelas juga ni jadi dokter apa ga hehehe..ya Allah ga bisa aku deskripsiin gimana senengnya aku bisa liat si dia setiap hari..betapa lembut dan santunnya suara n perilaku si dia..betapa care-nya si dia hanya untuk sekadar menanyakan “”Kenapa adek belum pulang?” atau “Adek jaga yah?”…mungkin yang baca blog ni ngerasa ga penting bgt detil yang ga jelas ini..

Banyak yang bilang klo cinta aku ni ga mungkin berbalas..

Emang bener aku ngarep si dia memperhatikan n KLO BISA membalas perasaan aku..

Tapi itu bukanlah harapan utama aku

Keinginan aku hanyalah ingin bisa melihat si dia, ingin jadi rekan sejawat si dia, hanya ingin si dia bisa tau aku tu yang mana..

Ga lebih..n aku bersyukur banget dengan semua kejadian yang telah terjadi atas kehendak-Nya 10 minggu yang lalu

Baru kali ini aku ngarep cinta aku ga dibales..

Lucu bener yah, karena aku ngerasa ga pantes untuk si dia, yang menurut aku, too cool n too perfect to be my man

Masalah si dia ikwan n ga mau pacaran..aku tau n aku sangat menghargainya

Karena aku juga sekarang ni ga terlalu nganggep pacaran itu penting, karena takutnya setelah menikah jadi bosen

N aku nganggep proses ta’aruf dalam Islam membuat hubungan pernikahan dan proses menuju ke sana menjadi suatu hal yang sangat mendebarkan

And hubungan yang halal itu memang menyenangkan..

Si dia pasti setuju ^_^

Sebentar lagi si dia akan menyelesaikan tugasnya di dunia perkoasan dan keluar menjadi orang yang bekerja and so pasti dia kembali lagi ke daerahnya semula

Lagi2 aku bersyukur banget Allah memberi jalan n kesempatan untuk aku ngeliat wajah n rupa si dia selama 10 minggu..n juga memberi aku kesempatan untuk meminta maaf pada si dia perihal perkataan aku yang buruk tentang si dia

Mengenai perihal perkataan buruk tersebut..yah yang sebenarnya aku tuh bukannya benci atau apa..aku kecewa banget perkenalan aku dengan si dia tidak ditanggapi..malah sampai 3 kali si dia sama sekali lupa bahkan tidak tau siapa aku..sangat menyedihkan sehingga keluarlah kata2 yang seperti biasa..tajemm banget klo aku dah sakit ati..yah biasalah ego..

Kemaren2 aku karoke..seorang temen milih lagi Monita Kekasih Sejati..liriknya sangat aku banget..ada satu lirik yang aku suka banget..yang kira2 bunyinya “….aku tak kan menyesal mencintaimu meskipun kamu tidak menjadi milikku..”(aku lupa bunyi liriknya persisnya gimana)

Waduhh itulah yang aku rasain sekarang..yah aku harus merasa ikhlas bila memang si dia tidak ada hati dengan aku..it’s okey..karena cinta memang tidak bisa dipaksakan..

Jujur..untuk melangkah pendekatan lebih jauh..aku ga berani karena aku perempuan n dignity aku pernah jatuh waktu aku suka sama seorang ikhwan juga

N aku bener2 ga mau mengulanginya..apalagi sama si dia..

Apa jadinya pandangan si dia terhadap aku?

Bisa berabe..

Sebenarnya..

Aku bisa ketemu n beradu pandang dengan si dia saja sudah bisa membuat jantung aku berdebar-debar..

Udah bisa ngebuat hari aku lebih ceria..

Udah bisa ngebuat aku lupa sama kesusahan aku..

Udah ngebuat aku lebih merasa bersyukur akan apa yang sudah aku miliki..

Terutama waktu yang terbatas untuk bertemu si dia..

Pernah..

Di sebalik raga yang tanpa daya

Terlalu angkuhnya ‘tuk mengungkap rasa

Atau tak berani jujur, aku manusia biasa

Ada ketakutan, ketakutan berlebihan

Terluka, kecewa, merana

Meski semua itu hiasan cinta

Pernah..

Hati ini jujur terbuka

Bahkan percaya sepenuhnya, jiwa dan raga

Kiranya bukan cinta berbalas cinta

Dua hati berbeda rasa

Bukan menuai kasih, salah menyemai benih

Ceceran tersisa, pedih..perih..

Pernah..

Sekujur badan ini terpaku

Keindahan..sempurnanya penciptaan

Kiranya bukan pula untukku dia diciptakan

Rindu-rindu kian damba pertemuan

Pernah..

Hati ini menyadari

Bahwa hakekatnya cinta karunia Ilahi

Mencintailah karena Dia mencintai

Dan kebencian itu, hanya apa yang Dia benci..”

(dikutip dari unknown)

Puisi ini emang udah ngebuat aku cukup sadar..

Cintailah seseorang itu karena Allah..

Dalam artian seseorang itu bisa menunjukkan cara hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya..yang pantas sebagai teladan..yang dapat membimbing aku n anak-anak aku nantinya ke surga yang indah..

Hmm…harapan yang berlebihan kayaknya >_

Aku pikir..

Alangkah beruntungnya akhwat yang nantinya jadi pilihan si dia

Si dia pastinya ga bakal mempertimbangkan aku untuk jadi pendamping hidupnya

Karena..

Eh..karena..

Aku emang kurang, atau lebih tepatnya, ga pantes untuk si dia..

Allah knows wats best..

Untuk aku ataupun untuk si dia

Ya Allah kalaupun Dia berkehendak..

Jadikanlah si dia jodohku..

Yang akan menemani dan mencintaiku hingga ajal memisahkan kami berdua

Tumbuhkanlah perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan terhadapnya

Ya Allah kalaulah Dia jua berkehendak..

Si dia bukan jodohku..

Tolong hapuslah ingatan dan perasaan cintaku ini terhadapnya

Karena cinta itu seperti candu, yang memabukkan dan mematikan realita

Yang apabila tidak terpenuhi akan membunuh diriku perlahan-lahan

Tolong buat diriku yang lemah ini untuk mengikhlaskan si dia pergi dariku

….

Terkadang aku ngerasa bodoh banget kenapa aku selalu aja jatuh cinta sama orang yang ga cinta sama aku..

Aku pernah curhat sama seorang temen..dia bilang gini..

“Cinta bukan kebodohan, karena ia bukan perasaan yang bisa dicegah atau ditiadakan, tapi ia hanya bisa dikendalikan, maka ia termasuk dalam golongan nafsu, berbeda dengan kebodohan. Bahkan cinta ada dalam Al Quran dan HR Ahmad, Nasai, Hakim, Baihaqi. Sunatullah, kalau cinta selalu diikuti rindu, adapun rindu yang disertai dengan menjaga diri dari padanya dan menyembunyikan dari orang2 maka padanya pahala. Artinya semakin kuat kita bisa menahan nafsu cinta karena khawatir akan membuat mudhorat, atau sebab tidak mampu mendapatkan apa yang dirindukan dan bersabar atasnya sampai mati, maka ia dapat pahala syahid, sebut imam Suyuthi, dalam kitab Haasyiah Marakil Falah.”

Syukran jiddan aku punya temen yang menyarankan seperti ini..

Yah..

Cinta..

..cinta..

Sebuah misteri yang ga bakal terpecahkan oleh manusia

Karena hanyalah Allah yang tahu kemana cinta itu mengalir dan bermuara

Wassalam…

Duren mantappp!!!

Sepulangnya dari RSJ Ernaldi Bahar, aku dan temen aku yg top bgt, Nisa, langsung kepikiran untuk memenuhi “hasrat” kami dalam sebulan ini, MAKAN DUREN!!hehehe..

Berhubung ada duit dikit, dah cabutlah kami bes ngenet di warnet efka, ke tempat deket warung nasi kapau. Ampe di sana, ditanya sm tukang jualannya, mw yg 15 riben ato 10 riben?nah aku denger2 bisikan dari Nisa, klo yg 10 riben ni kecil..na berhubung belinya bagi 2, jadilah aku memutuskan ambil yg 15 riben..

Nah aku kan akhir2 ni dapet inspirasi ga tau darimana tentang tips memilih duren, supaya ga kecolongan..

Pertama2, aku banting2 dikit tu duren yang dipilih sm tukangnye..(sekalian ngetes tu tukang, tukang tipu ape bukan hehe)..trus aku pinjem pisau belati (cieh belebeh…) and….aku ketok2 tu duren pake pegangan pisau ntu..(pasti ngiranya aku bakal melakukan tindakan berdarah2 terhadap tukang jual ntu kan hehehe)..

Berhubung aku dah berpengalaman di Penyakit Dalam, bahwa perkusi tu penting untuk menentukan apakah tempat or ruangan berongga ntu ada isinya ato ga, jadilah tu teknik aku praktekkin dalam penentuan duren..

Jayus si emang, tapi kebukti lho!!

Dengan mengucap bismillah, aku n temen aku ntu membuka satu per satu bagian duren..

And hasilnya??

Kami dapet duren yang endhuttt..hehehehe..

Padahal dalem ati aku dah klo dapet yang jelek berarti aku ga berhasil menerapkan jurus ni..hahaha

Itulah ye yang namanya milih duren emang rada gambling..kira-kira dapet yg bagus ape busuk ye??

Sebenarnya dibilang berhasil ga juga si langkah aku ni karena aku pernah makan yang lebih enak lagi dari ini..tapi jadilah kejadian duren mantap ni membuat hari aku yang udah ceria di RSJ jadi tambah hepi..

Aduh sayang banget di RSJ cuma 5 minggu T_T

Tapi jangan 10 minggu jugak, ntar otak aku karatan..

Hehehe..ga penting banget ni cerita duren =D

My New Life As a Middle-Age Co Assistant

assalamu’alaikum…

nasib yang ga jelas di bagian anak…sekarang lagi jaga bangsal anak..bangsal B..ada pasien thalassemia masuk..yah biasalah gawe koas..itung ini itung itu..katebelece lah..

dibilang sulit..sebenernya ga juga..emang pada dasarnya gw tu males..n masalah terbesarnya adalah GW NI GA PINTER2 AMAT..

lagi kecewa berat gw ni..nilai gw paling rendah di antara nilai temen2 gw seboks..aduuh padahal baru di box pedsos..gmn klo di box ginjal-kardio-saraf..????alamak jong..

ujian ama dr.Hasri juga blon kelar ni..n lagi2 gw keluar dgn nilai yg paling bontot lagi..wadoooh..apa gw ni terlalu prematur buat masuk anak ya?

berkali2 pikiran kayak gitu menghantui aku..tapi aku pikir2 di FK laen stase anak khan stase bawah yah?knp harus lewat semua baru masuk anak?

ga ngerti..minder juga gw ngerasa ga punya ilmu yang cukup bwt masuk anak…bayangin kakak2 tingkat ni udah lewat ke-15 stase sementara gw baru lewat 6 stase..ilmunya ya ga nyampe separoh..

waduh ga taulah ye..masa depan serba ga jelas di sini..mudah2 an gw bs melalui anak dengan selamat..karena target gw dalam setaon pertama ko as ini terpenuhi yaitu 3 minor 4 mayor!!biar kate org gw ni gelo krn ambil 4 stase mayor sekali jalan biarin aja deh..belum gila kog gw yah (doakan jangan sampai)..

gw ga taulah semenjak masuk anak,,susah banget cari waktu luang untuk diri sendiri..ampe mau makan aja gw ga selera..jurnal gw blm kelar power point nye..case bm dapet pasien..dag dig dug deeerrr bener deh ni..target gw selanjutnya THT n IKJ..liat aje ntar ye..biar gw ga kena stagnan..yah biasalah ngatur strategi..=)

masalah jodoh???

nahhhh..lebih ga jelas lagi..yg jelas gw menikmatiiiii sekali pemandangan sehari2..gw bs liat muka si dia…manissssss banget  ^_^

tapi masalahnya ga ada kemajuan…yah kayaknya aku bkn jodoh yang tepat buat dia…secara dia shleh banget..hiks hiks malu aku..dia juga ga pernah negur ngeliat aja ato ketemu pandangan aja..kita bedua langsung pura2 ga ngeliat…gengsi padahal gw seneeeeng banget…si dia klo udah senyum…duh manissssss banget..

duh pusing gw klo ngomongin si dia…gw berharap bgt si dia menotice kehadiranku, tau Nat2 tu yang mana..yah meskipun gosip terus berkembang n menjadi bumbu (masakan kaleee…) di stase ini..

meskipun klopun gw ga ngedapetin dia..gw udah ketemu banyak hal yg menyenangkan di stase ini…kakak tingkat ni emang asik bgt..udahlah baik2..gw dah ngerasa punya kakak2 yang sayang sama gw..gpp lah lebaran gw jaga..gpplah tiap 2 minggu ujian..klo Allah menganugerahkan kesan yg menyenangkan dengan para calon dokter ini..rela gw ga seneng2…apalagi klo memikirkan si dia..

si dia..yang kucinta setulus hati..setulus cinta tak berbalas..emang cinta ga harus memiliki kan?gw kali ini ga pgn muluk2 ngejer si dia…gw cm pgn liat mukanya tiap ari..denger cerita tmn2nya ttg lagu favoritnya..kebiasaannya..bahkan cm pgn tw apa menu yg dia pesen untuk buka puasa..its just fine and enough to me

udah ah..gw mo ngejer setoran translate dulu…

wassalammmm…

Sabar..sabar..

assalamu’alaikum..again..

today’s the topic is about PATIENT. why i take it as the main theme? thats the thing that i want2explain here..

di sepanjang hidup yang telah aku jalani selama kurang lebih 22 tahun ini, banyak tantangan yang udah aku hadapi dan alhamdulillah bisa aku lewati..pertama, ketika aku merantau ke Jakarta seorang diri, mulai ngekos seorang diri, beradaptasi di sana seorang diri, ikut SPMB, ngurus pendaftaran kuliah sendiri, and then i entered the jungle..itulah FK yang lagi aku tempuh sekarang.

4 tahun pertama udah terlewati, dengan IP yang cukup2 makan, jadilah..2,7..emang otakku ga pinter2 amat. pas masuk koas, aku memutuskan ngambil 3 stase mayor sekali jalan, and…sekarang aku lagi di stase yang paling ga enak, yaitu Anak.

klo nurutin nyali, mungkin ga bakal aku ambil stase ini..tapi karena sesuatu, lebih tepatnya seseorang, jadilah emosi mengalahkan akal sehat..bingung juga klo dibilang pake emosi, tapi semua pertimbangan rasionalku ketika memilih stase ini sebagai stase awal tahun kedua di koas ini semuanya berdasarkan alasan yang ga rasional itu.

langkah menuju anak udah menemui banyak rintangan, yang pertama: aku tadinya pengen disingkirin ke stase neuro lah, yang kedua: tekanan di anak ni lumayan mendepresi otakku untuk bekerja lebih keras, karena harus belajar tiap hari..gimana enggak, setiap pagi jam 8, diteror melulu, yang ketiga: ntar aku case paling terakhir and….SENDIRIAN. thats cool!!! gila..antara bengong dgn syok aku ngedengerin chief ngomong klo aku dapet sial bener kali ini..yah aku ga tau apa yang Allah rencanakan terhadapku..aku yakin semua ada hikmahnya kog..kayak waktu skripsi aku dapet sama pembimbing yang horrorrrr banget..bisa juga aku dapet A meskipun harus merangkak-rangkak dapet nilai and terancam ga yudisium.

i just dont know and cant imagine that i do this all..just for him.

just to get closer to him..just want to see him everyday..just to fulfill my daydream that he will see me..maybe..someday..
i know its insane, but he’s my energy..

dibilang cinta, aku juga bingung
mungkin ambisi, mungkin cuma cari sensasi
ga ngerti juga

all i do now is just to make me closer to him..
maybe thats correct..
meskipun aku harus ngelaluin seribu duri..jungkir balik, yah demi kebaikan aku juga..klopun aku ga bisa jadi dengannya, ga bisa mengenal dia lebih jauh, aku bisa jadi orang yang lebih kuat, paling ga aku sudah lewat bagian Anak, bagian yang paling ditakutin KKS jaman pertengahan kayak aku ini.

selama ini, aku cuma bisa ngebayangin dia lewat foto2nya, dari cerita2 temen2, ketemu sama dia jaraaaaaaang banget, setiap akli pertemuan aku dengannya, aku anggep sebagai suatu pertemuan yang sangat spesial, hanya dari tatapan mata dan senyumnya, dunia serasa terhenti waktunya..

sangat dramatis, karena ga pernah ada pria yang membuat aku merasa seperti ini. dari profilnya yang sedikit aku ketahui, dia adalah pria yang sangat baik, sopan, pintar pula..mendekati sempurna..mungkin kata itulah yang tepat untuk menggambarkan dia.

yang aku lakukan sekarang adalah hanya ingin melihat dia aja..ga lebih..klo dia ngajak aku bicara..alhamdulillah =)

ga taulah abis stase ini, mungkin dia akan pergi jauh, balik ke daerahnya, ga bakal ketemu lagi dengan aku..sementara aku ngelanjutin masa koasku and ngejer impian2ku..yah ga taulah..ya Allah aku mensyukuri semua momen yang mempertemukan aku dnegannya..bahkan momen sepersekian detik sekalipun..

maybe lebih tepatnya…I ADMIRE HIM seperti pemuja tehadap sesembahannya..

balik lagi ke Anak, stase yang paling ga menyenangkan ini, sedikit demi sedikit aku coba adaptasi, SKSD sm kakak tingkat, sementara temen seangkatan aku kebetulan satu grup pula..terpisahlah aku sendirian, kayak rumput liar…emang dari dulu aku ni sama dengan rumput liar..mau dicabut kayak apa, tetap akan tumbuh.

aku percaya akan semua kejadian, baik buruk maupun baik, yang Allah kasih ke aku..semuanya adalah anugerah..yang jarang diberikan ke orang lain..

sebentar lagi kan Ramadhan toh..yah mudah2an aku jadi wanita yang lebih baik, catet yah..aku ga pake kata cewek lagi..karena usiaku ini udah usia menikah, punya anak, punya rumah tangga dan punya tanggung jawab..aku juga udah mulai agak terbiasa ga teriak2 lagi ngomongnya, ga meledak2 lagi emosinya..menjadi wanita yang baik emang ga mudah..mesti banyak2 sabar..sama aja klo mau jadi orang sukses juga mesti banyak sabar, ga ada yang instan di dunia ini..terkadang aku ngerasa berdosa kadang2 aja aku shalatnya ga bolong dalem sehari, apalagi tepat waktu..ga taulah sebenarnya sempet terbersit di hatiku..apa aku coba2 lagi yah ikut pengajian sama mbak Dea? yah mudah2an keinginan itu bisa terwujud, supaya aku bisa jadi manusia yang lebih baik.

itu aja ah..makin lama blognya makin ngelantur..
wassalam..